160 x 600 Ad Section

Bioethanol Gel


Energi merupakan salah satu permasalahan utama dunia, Sampai saat ini bahan bakar minyak (BBM) masih menjadi sumber energi utama negara-negara didunia, sehingga energi dapat menjadi senjata politik yang menakutkan bagi negara pemiliknya karena sektor industri dunia bergantung pada energi.
Di Indonesia, peranan BBM masih sekitar 63% dalam pemakaian energi final nasional (Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Dep.ESDM ; 2003). Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja negara (APBN) Indonesia sangat dipengaruhi oleh sektor Minyak Bumi dan Gas (MIGas). Sebagai contoh, naiknya harga minyak dunia mengakibatkan naiknya subsidi BBM oleh pemerintah → pemerintah mengambil kebijakan menaikkan harga BBM → meningkatnya biaya-biaya perekonomian masyarakat. Sehingga, harus ada upaya-upaya strategis untuk mengurangi ketergantungan pada BBM.
Hal ini sudah cukup mendesak untuk dilakukan di Indonesia, mengingat cadangan minyak nasional diprediksikan hanya sampai 18 tahun lagi, sementara konsumsi energi dalam negeri terus meningkat. Pada tahun 2010, jika peningkatan laju konsumsi BBM seperti tahun 2007 diprediksikan jumlah import BBM Indonesia akan meningkat menjadi sekitar 60% - 70% dari kebutuhan BBM dalam negeri saat ini. Hal ini akan menjadikan Indonesia menjadi Pengimpor BBM terbesar di Asia (Dep ESDM 2008)
Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati, untuk itu Penggunaan bahan bakar alternatif harus segera dilaksanakan terutama yang berbentuk cair, karena masyarakat sudah sangat familiar dengan bahan bakar cair. Salah satunya adalah Bioetanol sebagai bahan bakar nabati (BBN). Bioetanol dengan karakteristiknya dapat mensubtitusi BBM.
Beberapa alasan Indonesia mengembangkan bioetanol :
 Konsumsi energi yang terus meningkat,
 Bahan bakar fosil akan habis,
 Devisa (impor BBM),
 Potensi penggunaan biofuel,
 protokol Kyoto,
 Potensi hayati (lahan dan jenis tanaman),
 Potensi sumber daya manusia.
BBM merupakan unrenewable resources yang berbasis pada pembentukan fosil dari tanaman dan hewan selama ratusan juta tahun sedangkan BBN merupakan renewable resources yang berbasiskan pada industri perkebunan dan pertanian. BBN menekankan pada budidaya energi (Energy Farming) melalui tumbuhan hijau sehingga dapat dikenal dengan konsep energi hijau (Green Energi).
Ide pembuatan BBN berawal dari keinginan untuk mengurangi konsumsi BBM dari anggota tim pribadi pada khususnya dan masyarakat sekitar pada umumnya akibat dari kebijakan kenaikan harga BBM. Melalui diskusi dengan mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut
•Potensi Diri, Ilmu dan Waktu,
•Lingkungan sekitar,
•Peluang wirausaha yang ada,
•Peluang modal yang mungkin didapatkan.
Setelah menganalisis aspek Strength Weakness Opportunity Threat (SWOT) diambil keputusan untuk melaksanakan usaha pembuatan bioetanol berbahan dasar singkong. Singkong terpilih karena banyak terdapat di daerah domisili anggota tim dan jarang dimanfaatkan secara optimal.
Langkah selanjutnya, kami mulai mendesain suatu cara agar sumber daya yang terbatas dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dalam proses desain unit produksi mulai dari awal proses kami menggunakan mikroorganisme sehingga dapat mengurangi beban lingkungan untuk mengolah limbah sesuai Life Cycle Assassment (LCA). Pada umumnya, proses pembuatan etanol menggunakan bahan kimia, contoh: HCl, dalam tahapan hidrolisis bahan.
Kegiatan yang akan dilakukan dalam bisnis ini adalah memproduksi bioetanol dengan kadar 90%-96% berbahan dasar singkong. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat berperan sebagai pengganti BBM, terutama minyak tanah.
Tujuan dari usaha ini untuk masyarakat sekitar adalah mendapatkan pengganti minyak tanah yang sesuai dengan peralatan yang telah ada di dalam masyarakat sendiri. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu cemas oleh kebijakan kenaikan harga minyak tanah atau konversi BBM untuk rumah tangga ke Bahan Bakar Gas (BBG). Bagi pemerintah sendiri dapat mengurangi beban subsidi BBM ataupun anggaran untuk konversi pada BBG. Bagi penulis sendiri merupakan aplikasi ilmu yang telah didapatkan selama kuliah yang berorientasikan pada peningkatan kemampuan (Skill up) kewirausahaan serta potensi profit.
Pada bisnis ini penulis melakukan kegiatan produksi dan pemasaran produk kepada konsumen. Pada proses produksi kami menggunakan fermentasi 2 tahap.
Tahap I menggunakan Aspergillus Niger untuk mengubah amilum (pati) menjadi glukosa
Tahap II menggunakan Saccaromyces Cereviceae untuk mengubah glukosa menjadi ethanol.

Buku Tamu Jelly Fuel

Lorem ipsum